
dengarlah,
suara halus yang bergetar
bawah terik panas matahari,
dilambung ombak ganas mengacah diri,
bau hanyir ditubuh mereka,
merupakan wangian rezeki,
itulah harapan untuk anak bini,
bukan sekadar minta disubsidi.
pandanglah,
sebujur tubuh tua,
berhimpun uban yang menjalar liar,
kedut menghiasi ceruk wajah lesu,
acap membersih debu yang melekat dibadan,
menarik cebis kain usang pengusir angin salju,
meminta-minta sekelumit simpati,
dari tetamu kaki lima,
pun bisa mengetahui erti derita.
hidulah,
bau-bau hancing kotoran,
memenuhi sesak di sepanjang lorong,
tompok lendir hijau yang menggelikan,
tatkala tikus-tikus berkejaran,
seraut wajah bocah mencari baki botol dan
suratkhabar menongkat keperluan yang hilang,
dimanakah keadilanya?
singkaplah,
gelap pagi,
tatkala matahari malu-malu berdiri,
sedang kita enak dibuai mimpi
didakap asyik lena manja,
kelibat mereka telahpun hilang di ekor mata,
menoreh susu putih,
sambil ketar-ketar jari,
menahan sejuk pagi,
demi sesuap nasi.
renunglah,
seorang pemuda,
memegang erat punggung lori,
mengesat-ngesat mata,
kemerahan-merahan dilanggar angin laju,
bau busuk sampah tidak lagsung dihiraukan,
lain pula kenderaan di belakang,
pedal minyak segera ditekan,
pantas memencil diri,
dalam hati kecil ini berkata,
'sampai bila kamu begini wahai pemuda?'
singahlah,
di persimpangan jalan,
berbumbungkan zink karat,
bertemankan tong gas hijau,
debu jalanan kadangkala menguji kerongkong,
tangan yang lusuh berurat-urat,
tak pernah lupa,
menyimpul plastik kuih,
melipat kemas dedaun pisang,
dan segelintir memandang serong,
sebilangan lagi mencebik mual,
sedang dia terus menembokan muka,
demi pendapatan yang halal..
duduklah,
di atas tanah yang jujur,
bukan diatas kerusi yang mewah,
pasti pandangan mu cerah,
tidak lagi kabur,
atas keempukan kekuasaan,
dan kekayaan yang melimpah ruah,
bisa kamu membuka,
mata jiwa yang makin buta.
No comments:
Post a Comment